Postingan

Ketika Namaku Tak Ada di Dalam Mimpimu

   Ditulis oleh: Ni Wayan Maeta Dewi Suryantari & Shelma Atira Dewi. -- Cerita kolaborasi. -- Ketika Namaku Tak Ada di Dalam Mimpimu  Cerita tentang Cinta, Mimpi, dan Melepaskan Kami selalu duduk di bangku yang sama sejak SMA, bangku dekat jendela, tempat cahaya pagi masuk dengan lembut dan angin sering membawa aroma hujan. Bangku itu menjadi saksi banyak hal, tawa kecil, keluhan tentang tugas, mimpi-mimpi besar yang diucapkan setengah bercanda, dan satu perasaan yang hanya aku simpan sendiri. Namanya Arga Dirgantara. Arga adalah sahabat yang tahu caraku mengikat tali sepatu tanpa menunduk, hafal minuman kesukaanku, dan mengerti diamku lebih baik daripada kata-kata. Ia juga seseorang yang selalu berbicara tentang masa depan dengan mata berbinar, seolah dunia terlalu kecil untuk menampung semua mimpinya. “ Aku ingin pergi jauh ,” katanya suatu sore, saat kami duduk di halte bus sepulang sekolah. “ Bukan karena aku tak betah di sini, tapi karena ada banyak hal yang ...

Matahari di Balik Awan

 Ditulis oleh: Ni Wayan Maeta Dewi Suryantari & Shelma Atira Dewi. -- Cerita kolaborasi. -- Matahari di Balik Awan Manusia adalah orang yang menjalankan peran di dunia. Suka dan duka adalah uraian kata dari banyaknya frasa yang ada. Waktu adalah bukti bahwa manusia tak akan bermakna jika kita berdiam diri dan mengabaikan hal yang berarti. Di bawah cahaya gemilang, pasti butuh kedamaian dalam pelukan. Seperti hal nya matahari dan awan, dua elemen yang tak akan terpisahkan namun akan ada rasa kehilangan pada waktu matahari tenggelam. Hai, namaku Arga Ditya Permana, biasa dipanggil Arga. Aku adalah seorang musisi Bali dari Kota Denpasar. Setiap malam, panggung menjadi kanvas bagi kisah hidupku yang penuh liku. Hidupku tak hanya tentang gemerlap panggung, tepuk tangan, dan sorakan yang diucapkan. Namun ada melodi yang selalu menjadi saksi setiap perjalanan. Inilah kisahku, kisah tentang cinta yang hilang dan janji yang terabaikan oleh kesalahanku. Matahari mulai memancarkan p...

Pendidikan Untuk Merubah Dunia

Ditulis oleh : Shelma Atira Dewi — Note: Cerita ini diikutkan dalam lomba cerita pendek tingkat nasional dan memenangkan juara 1 pada EDUFEST Departemen PENDIKMA BEMP Pendidikan IPS UNJ. Penulis mengupload di sini sebagai arsip pribadi. — Untuk beberapa orang, pendidikan bukanlah tujuan utama untuk mereka tuju. Pendidikan justru bisa menjadi penghalang. Seperti remaja yang tidak punya biaya bersekolah, remaja yang dilarang orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan karena diwajibkan bekerja menjadi tulang punggung keluarga, hingga orang dewasa yang ketinggalan pendidikan dan berhenti mengejarnya karena sudah punya tanggungan lain. "Ren, udah ke mana aja kamu selama empat tahun ini?" Tanya Olga, teman Shiren. "Kuliah kok, sama kayak kalian," jawab Shiren singkat. Perempuan itu bereuni dengan teman se-gengnya sewaktu SMA. Dulunya merupakan geng yang kata orang-orang berisikan anak jenius. Ada Olga, Tara, Nuel, Dimas, dan Shiren sendiri.  "Maksud kamu jalan-jalan k...

Manusia yang Kehilangan Dunianya

Ditulis oleh: Shelma Atira. Note: Cerita pendek ini diikutkan dalam kontes menulis Indonesiana.Id. Penulis mengupload cerita pendek ini di sini sebagai arsip. ***  "Yesa, majalahnya bagus, ya!" Kenzo, anak laki-laki usia empat belas tahunan berteriak girang pada Yesa kecil sambil menunjukkan gambar bacaan majalah. Senyum Yesa kecil bertemuan dengan senyum Kenzo. Dua bersaudara yang terpaut usia lima tahun itu saling menyimak isi majalah dengan mata berbinar.  Namun, semuanya tidak berjalan menyenangkan begitu saja. Seorang wanita dewasa datang merampas buku majalah itu, lantas meraih tangan Kenzo, anak laki-lakinya sambil memasang wajah murka. "Kenzo! Sudah berapa kali Mama bilangin jangan dekat-dekat sama Yesa! Barusan apa juga yang kamu tunjukin ke dia?! Majalah?! Yesa itu autis, mana bisa dia paham yang kamu tunjukkin! Mulai besok Mama bakal taruh Yesa ke panti asuhan khusus anak berkebutuhan khusus. Dia cuma jadi beban, Kenzo. Jangan dekat-dekat Yesa, dia cuma anak p...

Anggar dan Tekadnya

 Ditulis oleh: Shelma Atira 〰️〰️ "Anggar, mukamu kenapa, Nak?" Abah menyambut kedatanganku dengan suram. Mukanya pucat pasi melihat keadaanku. Koran yang biasanya dia baca khidmat sampai tidak memperhatikan lingkungan sekitar diletakkannya pelan di atas meja, kala matanya menangkap kedatanganku dengan muka memar dihiasi darah. "Tadi habis jatuh, di jalan," jawabku seadanya, tidak tahu semestinya harus menjawab apa. "Anggar, jangan bohong!" Abah mendekat. Ruang tamu sepi itu membuat suara Abah jadi lebih terdengar menggelegar. Tangannya meraih sebelah pundakku, menatapku lekat. "Kamu habis bertengkar, kan? Mana ada jatuh sampai muka lebam begitu?! Abah tahu itu!" Aku mendesah, merasa tidak akan menang dari Abah karena beliau memang benar. Usai pulang sekolah, aku memang bertengkar dengan seseorang. Terlihat jelas dari tampilanku. Aku tak bisa mengelak dari Abah, pasalnya baju putih abuku juga sobek di beberapa bagian. "Kenapa, Bah?" ...

Ambisi Pengakhiran Penjajahan

Ditulis oleh: Shelma Atira  Indonesia, 1940. "Lari, Dimas! Jangan terus di sini!" Seorang wanita paruh baya meneriaki anak laki-lakinya yang berusia sekitar empat belas tahun untuk segera lari. Kaki wanita itu tersangkut kayu seusai tadinya tersandung cukup keras hingga tubuhnya ambruk. Wanita tua itu meringis sakit sekaligus khawatir. Bukan. Bukan karena dia baru saja terjatuh. Dia sakit karena harus memaksa anaknya pergi tanpa dirinya. Khawatir, khawatir karena anaknya hanya menangis kencang melihat tubuh ringkih Ibunya, semakin keras terisak mendengar suara tembakan senapan tentara Jepang yang menggelegar di angkasa. Anak itu menatap Ibunya sendu sambil menggigit bibir bawah. Air mata membanjiri pipinya yang kusam. Deru lari para pribumi lainnya terdengar mendesak, penuh ketakutan. Akhirnya, anak itu menegakkan lututnya. Dicondongkan tubuhnya sekilas untuk memeluk tubuh tersungkur Ibunya di tanah. Sebelum berbalik, anak itu menegaskan kepalanya. Ditatapnya Ibunya dengan ma...