Ketika Namaku Tak Ada di Dalam Mimpimu
Ditulis oleh: Ni Wayan Maeta Dewi Suryantari & Shelma Atira Dewi.
--
Cerita kolaborasi.
--
Ketika Namaku Tak Ada di Dalam Mimpimu
Cerita tentang Cinta, Mimpi, dan Melepaskan
Kami selalu duduk di bangku yang sama sejak SMA, bangku dekat jendela,
tempat cahaya pagi masuk dengan lembut dan angin sering membawa aroma hujan.
Bangku itu menjadi saksi banyak hal, tawa kecil, keluhan tentang tugas,
mimpi-mimpi besar yang diucapkan setengah bercanda, dan satu perasaan yang
hanya aku simpan sendiri. Namanya Arga Dirgantara.
Arga adalah sahabat yang tahu caraku mengikat tali sepatu tanpa menunduk,
hafal minuman kesukaanku, dan mengerti diamku lebih baik daripada kata-kata. Ia
juga seseorang yang selalu berbicara tentang masa depan dengan mata berbinar,
seolah dunia terlalu kecil untuk menampung semua mimpinya.
“Aku ingin pergi jauh,” katanya suatu sore, saat kami duduk di
halte bus sepulang sekolah. “Bukan karena aku tak betah di sini, tapi karena
ada banyak hal yang ingin aku buktikan.”
Aku mengangguk, seperti biasa. Selalu mengangguk. Padahal dalam dadaku
ada kalimat yang ingin keluar, ingin berteriak “Lalu aku bagaimana”. Namun
persahabatan mengajarkanku satu hal paling kejam yaitu tidak semua perasaan
pantas diucapkan.
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang terasa abadi. Kami belajar
bersama, bertengkar soal hal sepele, lalu tertawa lagi seolah tak pernah ada
jarak. Arga selalu bercerita tentang kampus impiannya, beasiswa luar negeri,
dan kota asing yang namanya sulit kuucapkan. Aku mendengarkan dengan penuh
perhatian, meski setiap kata tentang “pergi” seperti menambahkan satu lapis
jarak di antara kami.
Aku tahu, sejak awal, aku bukan bagian dari mimpinya. Aku hanya
persinggahan yang nyaman. Suatu malam, hujan turun deras. Arga datang ke
rumahku dengan sepatu basah dan wajah lelah. Kami duduk di teras, membiarkan
hujan berbicara lebih banyak daripada kami.
“Aku diterima,”
katanya pelan.
“Di mana?”
tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.
“Belanda.
Beasiswa penuh.”
Aku tersenyum. Senyum yang kupelajari bertahun-tahun. Senyum yang tahu
caranya menyembunyikan patah tanpa suara. “Selamat, Ga. Aku bangga.” Dan
itu bukan kebohongan.
Aku benar-benar
bangga. Hanya saja kebanggaan itu bercampur dengan rasa kehilangan yang belum
sempat kuterima.
Sejak malam itu, waktu terasa berjalan lebih cepat. Hari keberangkatannya
mendekat seperti garis akhir yang tak bisa kuhindari. Kami masih bertemu, masih
bercanda, tapi ada kehati-hatian dalam setiap kata. Seolah kami sama-sama tahu,
sesuatu akan berakhir, dan kami memilih berpura-pura bahwa semuanya akan
baik-baik saja. Di hari terakhir, kami duduk di bangku dekat jendela, bangku
yang sama, tapi rasanya berbeda. Cahaya pagi masuk seperti biasa, namun tak
lagi terasa hangat.
“Terima kasih,”
kata Arga tiba-tiba. “Untuk semuanya.”
Aku menatapnya.
“Kamu berterima kasih seolah kita tak akan bertemu lagi.” Ia tertawa
kecil. “Kita akan bertemu lagi. Hanya… mungkin tidak sesering dulu.”
Aku ingin mengatakan banyak hal. Tentang perasaan yang kupendam, tentang
takut kehilangan, tentang namaku yang tak pernah ada dalam daftar hal-hal yang
ingin ia kejar. Tapi lidahku memilih diam. Aku tahu, jika aku bicara, aku akan
memaksanya memilih antara mimpi dan rasa. Dan aku tidak ingin menjadi alasan ia
menunda masa depannya.
“Aku selalu
mendoakanmu,” kataku akhirnya.
Ia mengangguk. “Aku
juga.”
Kami berpisah tanpa pelukan yang dramatis, tanpa janji yang berlebihan.
Hanya lambaian tangan dan senyum yang terlalu dewasa untuk dua orang yang
tumbuh bersama. Hari-hari setelah kepergiannya terasa sunyi. Bangku dekat
jendela kosong. Pesan-pesannya semakin jarang, lalu menjadi sebatas ucapan
singkat. Aku belajar hidup tanpa kehadirannya, meski butuh waktu lama untuk
tidak menoleh setiap kali mendengar namanya dipanggil.
Suatu malam, aku bermimpi tentang Arga. Dalam mimpi itu, kami duduk
bersama seperti dulu. Ia bercerita tentang kota asing, tentang salju yang
pertama kali ia lihat, tentang kesibukan yang membuatnya lelah tapi bahagia.
“Apakah aku ada di mimpimu?” tanyaku dalam mimpi itu. Arga
terdiam. Lalu menggeleng pelan. Aku terbangun dengan mata basah dan dada sesak.
Mimpi itu sederhana, tapi cukup untuk membuatku mengerti, tidak semua
kebersamaan ditakdirkan untuk berjalan sejauh yang kita harapkan.
Waktu terus berjalan, seperti seharusnya. Aku melanjutkan hidupku,
mengejar hal-hal yang sempat kutunda karena terlalu sibuk menjadi tempat pulang
bagi orang lain. Aku belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki, dan
melepas tidak selalu berarti kalah.
Suatu hari,
sebuah pesan masuk.
“Aku pulang
bulan depan. Kita ketemu?”
Aku menatap
layar lama sebelum membalas. “Tentu.”
Kami bertemu di tempat yang sama, halte bus, sore hari. Arga terlihat
lebih dewasa, lebih yakin, tapi senyumnya masih sama. Kami berbincang tentang
banyak hal, tentang hidup yang berubah, tentang mimpi yang sebagian terwujud,
sebagian lagi berganti bentuk.
“Aku sering
mengingatmu,” katanya tiba-tiba.
Aku tersenyum. “Sebagai
sahabat?”
Ia tidak menjawab. Dan aku tidak menuntut. Karena aku akhirnya paham, ada
cinta yang tidak perlu diakui untuk menjadi nyata. Ada perasaan yang cukup
hidup di dada sendiri, tanpa harus menjadi milik siapa pun.
Dan ada kebahagiaan yang justru lahir ketika kita merelakan nama kita
tidak ada di mimpi seseorang asal kita tidak berhenti menuliskan mimpi kita
sendiri. Aku menatap langit sore, merasa ringan untuk pertama kalinya. Mungkin
aku tidak ada di mimpinya. Tapi aku akhirnya ada di mimpiku sendiri.
Tunggu, bukan aku yang berlebihan berharap. Ini karena Arga berbeda
sehingga sulit kulupa, dia percaya diri, pintar membaca kesempatan.
Bahkan sebelum ia ke Belanda, Arga adalah anak laki-laki yang
mengagumkan. Dia genius, tapi bukan yang paling paham soal fisika, tidak juga
suka bermain cryptarithm (sebuah rekreasi matematika). Dia paham seluruh jalan
di Provinsi Jawa Barat sejak SD, Kota Bandung jangan ditanya, kurasa dia cocok
jadi Wali Kota karena pemimpin kota memerlukan pemahaman geografis, dan Arga,
punya empati serta kemampuan organisasi yang tinggi.
Selama dia berkuliah di Belanda, peta dunia yang dibicarakannya sewaktu
kita sebangku sering kuingat. Tidak kucerna baik, tapi tidak bisa kulupakan,
karena selain kota asing impiannya yang sulit ku-eja, ia pernah bicara musim
dingin yang berada di negara asia timur hingga negara skadinavia di Eropa
Utara. Dia bicara soal keunikan lain seperti negara Bhutan yang menutup diri
dari modernisasi, letak Gunung Everest yang berada di antara Nepal dan China,
serta negara Samoa yang mengakui empat jenis kelamin.
Apakah aku ada dalam mimpimu?
Pertanyaan itu masih membayangi diriku karena di mimpiku, gesturnya menyatakan
bahwa aku bukan bagian rencana hidupnya.
"Jadi rencanamu setelah ini apa?" tanyaku kikuk.
"Pergi ke tempat yang lebih jauh."
Jawabannya sederhana, tapi menimbulkan banyak tanya.
Kupikir itu soal rencana lanjut studinya, karir dengan gaji dollar, atau
travelling yang mengantarkannya ke tempat yang selama ini hanya berhenti di
pembicaraannya. Namun dari cahaya di matanya, mimpi yang kali ini jauh lebih
terang, dan dia tidak bohong kali ini mimpinya lebih jauh.
Mimpinya bukan soal lagi ke negara mana, pakai sweater tujuh lapis dengan
kupluk, pakai sepatu sport keki atau sepatu ski, mau punya
rencana liburan luar negeri tiga hari atau tujuh hari, karena jawabannya
berikutnya membuat lututku lemas, menggetarkan hatiku. Saking kagetnya aku
tidak bisa bereaksi apapun. Mimpi yang kumiliki sendiri yang kubilang tidak
harus ada dia, ya tidak harus, aku bahagia, menjadi kebohongan. Pertahananku
runtuh.
Beberapa prediksi itu benar. Dia akan merencanakan karir, tidak di
Belanda tetapi Inggris, bonusnya dia ingin punya rumah di sana, dan hebatnya
lagi, dia memiliki rencana itu semua karena... ada nama telah terukir di
hatinya. Ia menyebut Anne Bruise, seorang gadis England yang disukainya, yang
dikenalnya selama tiga tahun ini (durasi waktu yang sama dengan Arga
mengenalku), tapi bedanya, Arga punya keyakinan yang lebih tinggi memilih gadis
itu dibanding aku. Prediksiku, berkarir di sana, punya status residensi, bahkan
pindah kewarganegaraan, membuatnya lebih mudah mengunjungi negara lain... dan
hidup layak.
"Lalu mengapa kamu menawari bertemu?" Tidak bisa hilang getar
di nadaku. Napasku yang tidak beraturan. Mataku panas. Badanku lemas dan
tegang. Lidahku kelu sekali. Aku bahkan bingung harus mengepalkan tangan atau
membuka jari untuk menutupi salah tingkahku.
"Mengucapimu selamat."
Aku terhenyak. Air mataku tidak jadi jatuh. Kontan aku menengokkan wajah
menatapnya. Namun jawabannya memperjelas semua pertanyaanku bertahun-tahun.
Menegaskan ke mana aku harus menuju setelah ini dan memberiku ruang untuk
bermimpi serius, tidak hanya mengikuti arus.
"Hoop doet leven," ujar Arga dalam bahasa
Belanda. "Artinya harapan membuatmu hidup. Hiduplah, ke keinginanmu,
Messy." Dia menyebutku dengan nama buatannya selama ini, meskipun nama
asliku Mahira Sanatya. Bukan karena arti messy dalam Bahasa Inggris adalah
berantakan, tapi karena bagi Arga, aku pribadi yang tidak memiliki arah. Tidak
bisa mencerna semua mimpi yang Arga ceritakan soal dirinya, dan hanya memiliki
tujuan singkat.
Arga meneruskan, kuliahku di Jogja adalah tujuan yang bagus, meskipun
kubilang aku tidak bertemu teman-teman setinggi pintu sepertinya, tidak pakai
bahasa asing, dan liburan semester tidak pergi ke negara lain. Dia
tersenyum, seolah mimpiku tidak lebih kecil dari miliknya, dan sorot mata
tajamnya mengartikan bahwa mimpiku bisa lebih besar dari sekarang.
"Aku bilang selamat, selamat sekarang kamu sudah tidak perlu ragu
soal 'kita', Messy." Ternyata dia tahu. Dia tahu bahwa aku ingin kepastian
yang rasanya jadi mimpiku. Mimpiku bukan soal uang, posisi, atau tempat.
Mimpiku adalah... ingin bersamanya, dan aku ingin tahu apakah kita bisa
membangun harapan yang dibahasnya untuk menciptakan kehidupan, 'bersama'.
Jawabannya tidak. "Aku sudah memilih orang lain, jadi kamu juga,
Messy."
Rasanya aneh.
Hatiku tetap pecah berkeping-keping tapi aku masih hidup. Kita tidak
pernah jadian, tidak pernah mengakui satu sama lain, tidak pernah memulai, tapi
hari ini... semua itu terasa berakhir. Semua hapalanku soal Arga, dan semua
perhatian kecil darinya soal caraku menali sepatu tanpa menunduk, serta minuman
favoritku. Semua yang kita pahami untuk punya status hubungan yang lebih, tidak
lagi berarti.
Semua penjelasannya berikutnya lebih masuk akal lagi. Dia menghela napas,
meneguk ludahnya. Disisirnya rambut ikal hitamnya yang kecokelatan diterpa
cahaya senja sore itu menggunakan jari. Wajahnya teduh. Tampan, menurutku.
Penerangannya membuatku tidak tahu harus membela diri seperti apa lagi.
Arga menerangkan, ia menaruhku dalam mimpinya, selama ini. Namun di hari
ini, dia tidak lagi menaruhku di situ, di laci pikirannya, tempatnya menyimpan
rencana, atau resminya sejak di tahun ini dia memutuskan memilih Anne Bruise.
Semua karena sejak dia ke rumahku tiga tahun silam, memberitahuku soal
penerimaan beasiswa, diam-diam dia sempat bicara dengan orang tuaku soal
mimpinya. Lebih tepatnya, soal keseriusannya juga padaku, walau dia tidak
menyatakan padaku. Aku bahkan tidak tahu soal itu.
Sayangnya, harapan yang menciptakan kehidupannya harus dibagi dua. Antara
dia memilih beasiswa, atau memilihku, sebab hari dimana dia punya rencana untuk
membawaku ikut ke tempat megah lebih dari disneyland itu, orang tuaku tidak
setuju. Pertama karena orang tuaku tahu Arga punya mimpi yang lebih ekstrem,
dia akan melesat seperti api sekali dia melihat dunia luar, menjadi yang paling
pintar, menghabisi satu persatu destinasi di dunia, dan orang tuaku tahu... aku
tidak mampu mengikuti laju cepatnya. Aku tidak punya mimpi sejauh itu. Itu
mimpi milik Arga yang katanya dia tabung sejak TK mengumpulkan peta dunia bonus
hadiah produk susu.
Orang tuaku benar. Sekalipun aku punya mimpi hidupku untuk Arga, yaitu
yang penting bersamanya, kita tidak sepenuhnya sejalan. Aku ingin selalu ada di
sisinya, tapi aku tidak suka ikut. Makanya untuk memutuskan itu, aku paham
kenapa Arga bilang, sudah waktunya aku punya mimpiku. Mimpiku yang bukan dia.
Mencari lelaki yang sejalan, dan tentu saja dia tahu.
Arga terang-terangan. "Minggu depan kamu lamaran, ya? Selamat juga
soal itu," bilangnya kaku. "Soal status kita? Sahabat juga bukan,
hari ini kita adalah teman. Kamu setuju?"
Arga juga tahu di hari dia menerima beasiswa itu, dia bersiap melepasku.
Sejak itu bangku sekolah di sebelahku kosong, meskipun itu sudah semester
akhir, sisa pembelajaran tambahan dan pengumuman terbaru soal persiapan ujian
masuk perguruan tinggi. Arga tahu harapan menciptakan kehidupan, dan harapan
tertingginya ada di mimpi, cita-cita. Butuh tiga tahun untuknya menahan sedih
dan ikhlas demi menegaskan ini. Dia tahu hari dia melepasku, laki-laki lain
dibolehkannya masuk ke hatiku.
Kepergian Arga sejak menerima beasiswa membuatku murung dan
uring-uringan. Saat itu Mikael, seniman selisih lima tahun yang kutemui di
pameran lukisan Institut Teknologi Bandung, membuatku yakin terhadap mimpiku
sehingga aku melanjutkan studi ke jurusan desain interior di Jogja.
Rasanya membingungkan.
Namun juga jelas.
Halte tempat kita duduk bersama terasa lebih dingin. Langit sudah
berganti dari jingga keemasan menjadi biru. Sudah ada dua kloter bis yang
datang silih berganti. Suara gemerisik daun berserakan di jalan dan berisiknya
orang lalu lalang yang mengiringi kita pudar.
"Kamu menemuiku untuk perpisahan?" tanyaku.
Aku tidak tahu bagaimana alur yang sebenarnya ini. Namun intinya, aku
tidak ada di dalam mimpi Arga. Aku lebih tidak tahu lagi, apakah Arga
memutuskan untuk memilih Anne supaya aku tidak tergantung padanya dan yakin
kepada Mikael, yang selalu ada dan membuatku hidup.
Aku lebih tidak tahu lagi, apakah Arga memilih Anne... karena dia sungguh
atau pura-pura mencintainya sebagai tamengnya menjauhiku. Aku tidak tahu nama
Anne Bruise itu sungguh 'ada' atau buatannya, dan aku lebih tidak tahu apakah
semua rencana selain keluar negeri Arga akan menciptakan kehidupan seindah
bayangannya. Memikirkannya saja selalu tidak memiliki kepastian.
Air mataku mengalir. Tidak deras, tapi cukup menjelaskan betapa sedih aku
mengakui bahwa... hidupku tidak lagi akan ada Arga.
Namun aku belajar... kehidupan akan selalu mengantarkan kita pada mimpi
kita. Mimpi yang membuat kita hidup. Entah itu karir, posisi, atau kepada siapa
kita akan hidup bersama, dan semua itu menuju ke arah yang masuk akal. Bukan
apa yang paling kita inginkan, tapi apa yang terbaik dan sewajarnya memberikan
kita kehidupan.
Arga bangkit. Aku juga bangkit. Dia mendekat ke arahku, memberikanku
pelukan untuk yang pertama dan terakhir kali. Sebelum aku tidak akan pernah
menjumpainya lagi, karena dia akan melesat ke tempat-tempat lain yang tidak
kuketahui, dan akupun, menuju ke kehidupan yang membuatku punya semangat hidup.
Bukan palsu, tapi juga menumbuhkan aku, percaya diriku, dan menciptakan suaraku
sendiri.
"Hidup dengan bahagia, ya, Mahira Sanatya," bisik Arga;
dan dalam hatiku, "Kejarlah juga mimpi-mimpimu yang tidak ada
aku, Arga Dirgantara."
-
TAMAT -
ditulis 31 Januari - 1 Februari, 2026
hak cipta pada penulis.
Bisa buat novel lg kak met
BalasHapus