Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Manusia yang Kehilangan Dunianya

Ditulis oleh: Shelma Atira. Note: Cerita pendek ini diikutkan dalam kontes menulis Indonesiana.Id. Penulis mengupload cerita pendek ini di sini sebagai arsip. ***  "Yesa, majalahnya bagus, ya!" Kenzo, anak laki-laki usia empat belas tahunan berteriak girang pada Yesa kecil sambil menunjukkan gambar bacaan majalah. Senyum Yesa kecil bertemuan dengan senyum Kenzo. Dua bersaudara yang terpaut usia lima tahun itu saling menyimak isi majalah dengan mata berbinar.  Namun, semuanya tidak berjalan menyenangkan begitu saja. Seorang wanita dewasa datang merampas buku majalah itu, lantas meraih tangan Kenzo, anak laki-lakinya sambil memasang wajah murka. "Kenzo! Sudah berapa kali Mama bilangin jangan dekat-dekat sama Yesa! Barusan apa juga yang kamu tunjukin ke dia?! Majalah?! Yesa itu autis, mana bisa dia paham yang kamu tunjukkin! Mulai besok Mama bakal taruh Yesa ke panti asuhan khusus anak berkebutuhan khusus. Dia cuma jadi beban, Kenzo. Jangan dekat-dekat Yesa, dia cuma anak p...

Anggar dan Tekadnya

 Ditulis oleh: Shelma Atira 〰️〰️ "Anggar, mukamu kenapa, Nak?" Abah menyambut kedatanganku dengan suram. Mukanya pucat pasi melihat keadaanku. Koran yang biasanya dia baca khidmat sampai tidak memperhatikan lingkungan sekitar diletakkannya pelan di atas meja, kala matanya menangkap kedatanganku dengan muka memar dihiasi darah. "Tadi habis jatuh, di jalan," jawabku seadanya, tidak tahu semestinya harus menjawab apa. "Anggar, jangan bohong!" Abah mendekat. Ruang tamu sepi itu membuat suara Abah jadi lebih terdengar menggelegar. Tangannya meraih sebelah pundakku, menatapku lekat. "Kamu habis bertengkar, kan? Mana ada jatuh sampai muka lebam begitu?! Abah tahu itu!" Aku mendesah, merasa tidak akan menang dari Abah karena beliau memang benar. Usai pulang sekolah, aku memang bertengkar dengan seseorang. Terlihat jelas dari tampilanku. Aku tak bisa mengelak dari Abah, pasalnya baju putih abuku juga sobek di beberapa bagian. "Kenapa, Bah?" ...

Ambisi Pengakhiran Penjajahan

Ditulis oleh: Shelma Atira  Indonesia, 1940. "Lari, Dimas! Jangan terus di sini!" Seorang wanita paruh baya meneriaki anak laki-lakinya yang berusia sekitar empat belas tahun untuk segera lari. Kaki wanita itu tersangkut kayu seusai tadinya tersandung cukup keras hingga tubuhnya ambruk. Wanita tua itu meringis sakit sekaligus khawatir. Bukan. Bukan karena dia baru saja terjatuh. Dia sakit karena harus memaksa anaknya pergi tanpa dirinya. Khawatir, khawatir karena anaknya hanya menangis kencang melihat tubuh ringkih Ibunya, semakin keras terisak mendengar suara tembakan senapan tentara Jepang yang menggelegar di angkasa. Anak itu menatap Ibunya sendu sambil menggigit bibir bawah. Air mata membanjiri pipinya yang kusam. Deru lari para pribumi lainnya terdengar mendesak, penuh ketakutan. Akhirnya, anak itu menegakkan lututnya. Dicondongkan tubuhnya sekilas untuk memeluk tubuh tersungkur Ibunya di tanah. Sebelum berbalik, anak itu menegaskan kepalanya. Ditatapnya Ibunya dengan ma...

Rahasia di Balik Kematian

Ditulis oleh: Shelma Atira. Disclaimer: Cerpen ini kuikutkan pada Kompetisi Menulis 2021 yang diadakan Jenius pada laman Co.Create.  Aku membagikan ke blog ini sebagai arsip pribadi. 〰〰 "Hari ini tanggal 24 Juni, seorang wanita tewas bunuh diri dari gedung tempatnya bekerja. Diduga, wanita tersebut stres karena pekerjaannya. Korban telah dievakuasi." Suara pembicara televisi terdengar memberitakan sesuatu. Samar-samar, dering suara telepon menyusul berisik, seolah meminta untuk segera diangkat. Aku berdecak malas melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah, ke tempat telepon itu berada. Kuangkat gagang telepon dan mendekatkannya ke telinga. "Halo?" panggilku menyapa pertama kali. Segera, suara berat pria paruh baya terdengar menjawab cepat. "Apakah ini dengan kediaman Ibu Lita? Kami hendak memberikan kabar penting." Aku meneguk ludah. Agak terkejut karena orang asing ini membahas perihal Ibu. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi entah mengapa per...

The Sorrow of Loss

Ditulis oleh: Shelma Atira 〰〰 "You can make grief a strength or a ruin, choose it." 〰〰 Hidup Kayana baik-baik saja. Setiap harinya dijalani dengan sekolah, mengerjakan tugas, bermain, pulang lantas tidur. Berulang lagi seperti itu keesokan harinya. Tetapi, Kayana tak menyangka hari ini akan jadi hari yang berbeda. Hal itu berawal ketika Kayana iseng mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Seperti biasa, kawan-kawannya melakukan hal bermacam kala jam kosong ini. Ada yang bermain kartu remi di belakang--kartu yang dibawa diam-diam, ada kumpulan cewe yang bergunjing, ada geng khusus anak pecinta Korea, animasi Jepang, dan film Thailand. Ada cowok-cowok yang berkutat dengan game -nya sambil sesekali bicara kasar. Semuanya terlihat asyik masing-masing. Kayana sendiri sedang berkumpul di bagian anak-anak rajin yang tetap bergumul dengan buku padahal guru tak ada di kelas. Kali ini tatapan Kayana jatuh ke Agra, cowok urakan nakal yang dari tadi masuk sekolah terlih...

Behind The Flaw

Ditulis oleh: Shelma Atira 〰〰 " It's not our fault if we have flaws ." 〰〰 "Lara, lo nggak papa?" Seorang cowok mendekati Lara yang tiba-tiba jatuh kala upacara sedang berlangsung. Lara tak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Tetapi Lara hafal suara cowok yang baru saja menanyainya. Lara tak sanggup membuka mata. Dibiarkannya badannya dibopong oleh petugas Palang Merah Remaja (PMR) yang tengah berjaga. Setelahnya, Lara tak tahu apa yang telah terjadi. Gadis itu hanya merasa badannya terbaring di suatu ruangan. Akhirnya, Lara tersadar. Dibukanya matanya, remang-remang ruangan terlihat. Cahaya masuk dari jendela bergorden di belakang ranjangnya. "Hah, pingsan lagi?" gumam Lara sendiri. Gadis itu menatap langit kamar Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Gadis itu tak punya gangguan khusus. Tetapi dia memang rentan pusing jika berdiri lama di bawah terik matahari. Lara mengedarkan pandangan. Ruangan UKS tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa siswa ...